Chlorpromazine atau lebih dikenal dengan nama dagangnya Eksimer, adalah obat antipsikotik yang digunakan untuk mengobati berbagai kondisi kesehatan mental, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, dan kondisi kecemasan tertentu. Obat ini bekerja dengan cara mempengaruhi zat kimia di otak yang terlibat dalam gangguan mental tersebut. Meskipun efektif dalam mengatasi gangguan psikosis, penggunaan chlorpromazine juga dapat menimbulkan sejumlah efek samping yang berbahaya jika tidak digunakan dengan benar atau tanpa pengawasan medis yang tepat.
Untuk itu, penting bagi setiap pengguna dan calon pengguna untuk memahami bahaya yang mungkin timbul dari penggunaan obat ini, serta cara-cara yang dapat diambil untuk meminimalkan risikonya.
BACA JUGA DISINI: Efek Negatif Obat Tramadol: Bahaya dan Risiko
Apa Itu Chlorpromazine (Eksimer)?
Chlorpromazine termasuk dalam kelompok obat antipsikotik yang dikenal juga dengan nama neuroleptik. Obat ini pertama kali diperkenalkan pada 1950-an dan digunakan untuk mengatasi gangguan mental berat, terutama yang terkait dengan halusinasi dan delusi pada pasien dengan skizofrenia. Selain itu, chlorpromazine juga digunakan untuk mengatasi gejala gangguan bipolar, mual dan muntah, serta dalam beberapa kasus, untuk mengatasi ketegangan otot.
Namun, karena obat ini bekerja dengan mengubah keseimbangan kimiawi di otak, penggunaannya harus sangat hati-hati dan diawasi oleh tenaga medis untuk mencegah efek samping yang serius.
Efek Samping yang Mungkin Timbul
Chlorpromazine efek samping yang berpotensi membahayakan kesehatan jika tidak ditangani dengan benar. Berikut adalah beberapa bahaya yang mungkin terjadi akibat penggunaan chlorpromazine:
1. Efek Samping pada Sistem Saraf Pusat
Obat ini mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP) dan dapat menyebabkan sejumlah gangguan neurologis, antara lain:
-
Sedasi atau kantuk berlebihan: Efek samping Chlorpromazine dapat menyebabkan rasa kantuk yang berlebihan, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko kecelakaan.
-
Pusing dan kebingungan: Pengguna dapat merasa pusing atau bingung, terutama saat bangun dari posisi duduk atau tidur, yang bisa menyebabkan terjatuh.
-
Tremor atau gemetar: Beberapa pengguna melaporkan mengalami tremor (gemetar) pada tangan atau bagian tubuh lainnya, yang sering terjadi pada dosis yang lebih tinggi.
-
Kejang-kejang: Meskipun jarang, chlorpromazine dapat menyebabkan kejang-kejang pada beberapa orang, terutama bila digunakan dalam dosis tinggi atau bersamaan dengan obat lain yang mempengaruhi otak.
2. Efek Samping pada Sistem Kardiovaskular
Penggunaan chlorpromazine juga berisiko mempengaruhi sistem kardiovaskular, yang dapat menyebabkan:
-
Tekanan darah rendah (hipotensi): Chlorpromazine dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, terutama saat bangun secara tiba-tiba. Hal ini dapat menyebabkan pusing atau bahkan pingsan.
-
Denyut jantung tidak teratur: Dalam beberapa kasus, obat ini dapat menyebabkan aritmia atau denyut jantung yang tidak teratur, yang bisa berisiko bagi pasien dengan penyakit jantung.
3. Efek Samping pada Sistem Pencernaan
Obat ini dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan, antara lain:
-
Mulut kering: Pengguna sering mengalami rasa kering di mulut yang dapat membuat mereka merasa tidak nyaman dan lebih rentan terhadap infeksi gigi.
-
Mual dan muntah: Walaupun chlorpromazine sering digunakan untuk mengatasi mual dan muntah, pada beberapa orang justru dapat memperburuk gejala ini.
-
Konstipasi (sembelit): Penggunaan chlorpromazine dapat memperlambat pergerakan usus, yang menyebabkan sembelit.
4. Efek Samping pada Sistem Endokrin dan Metabolisme
Obat ini dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh, yang dapat menyebabkan masalah seperti:
-
Kenaikan berat badan: Chlorpromazine dapat meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak diinginkan.
-
Gangguan gula darah: Pada beberapa orang, chlorpromazine dapat menyebabkan gangguan dalam pengaturan gula darah, yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
-
Disfungsi seksual: Obat ini dapat menyebabkan penurunan libido, gangguan ereksi pada pria, atau gangguan menstruasi pada wanita.
5. Efek Samping Jangka Panjang: Sindrom Ekstrapiramidal dan Diskinesia Tardif
Salah satu bahaya terbesar dari penggunaan chlorpromazine dalam jangka panjang adalah potensi munculnya sindrom ekstrapiramidal (EPS), yang melibatkan gangguan gerakan seperti tremor, kekakuan otot, dan gerakan tidak terkendali. EPS adalah efek samping yang khas dari antipsikotik generasi pertama seperti chlorpromazine.
Diskinesia tardif juga dapat berkembang setelah penggunaan jangka panjang, yang menyebabkan gerakan tidak terkendali dan abnormal, terutama di area wajah, lidah, dan tubuh.
6. Reaksi Alergi dan Efek Samping Lain
Beberapa pengguna mungkin mengalami reaksi alergi terhadap chlorpromazine, yang bisa menyebabkan ruam kulit, gatal, atau kesulitan bernapas. Reaksi alergi ini memerlukan perhatian medis segera. Selain itu, beberapa pengguna dapat mengalami gejala parkinsonisme, termasuk kekakuan otot dan ketidakmampuan untuk bergerak dengan lancar.
Pencegahan dan Pengelolaan Efek Samping
Untuk mengurangi risiko efek samping dan bahaya yang timbul dari penggunaan chlorpromazine, beberapa langkah pencegahan yang perlu dilakukan adalah:
-
Pengawasan medis yang ketat: Penggunaan chlorpromazine harus dilakukan di bawah pengawasan dokter yang dapat menilai dosis dan memantau kondisi kesehatan pasien secara teratur.
-
Penyesuaian dosis: Dosis chlorpromazine perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan respons tubuh pasien, terutama pada mereka yang memiliki kondisi medis lain.
-
Pemberian obat dengan dosis rendah: Penggunaan dosis rendah pada awalnya dapat mengurangi risiko efek samping yang lebih berat.
-
Pemantauan efek samping: Pasien yang menggunakan chlorpromazine harus rutin memeriksakan diri untuk mendeteksi gejala-gejala efek samping, seperti perubahan tekanan darah, kenaikan berat badan, atau gangguan pergerakan tubuh.